semoga tidak kebal untuk yang satu ini
bermula dari gempa di jawa barat yang ternyata dirasakan juga oleh masyarakat se-bandung, termasuk saya. saat itu saya sedang berada di jurusan akan kuliah di lantai 2. goncangan yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk membuat panik orang-orang satu gedung. brak brak brak! semua orang berlarian keluar mencari tampat aman *tapi saya bingung kenapa semua orang saat itu melihat ke arah gedung ti ya? seolah berharap runtuh? wew*
beberapa hari kemudian disusul dengan gempa jogja (kembali di guncang gempa walaupun tidak sebesar beberapa tahun lalu). saya ingat saya berpikir saat itu “wah gempanya merembet ke arah timur indonesia..”. derengdengdengdeng ternyata tidak lama setelah itu malah sumatra barat yang diguncang gempa.. BESAR! bahkan lebih besar dari gempa yang mengguncang jawa barat..
saya tidak tahu harus panik atau sedih mengingat kampung halaman ayah ibu ada disana. saat itu pikiran logis saya “ah kampung kan di daerah pegunungan. mestinya getarannya udah keredam pas nyampe kampung”. jadi yang ada di pikiran saya saat itu adalah bagaimana nasib 3 orang adik ayah saya beserta keluarganya..? alhamdulillah langsung mendapat kabar saat itu bahwa mereka baik-baik saja. jadi saya bisa mencemaskan teman-teman saya di riau yang katanya ikut merasakan getaran tersebut. dan ternyata aman-aman saja disana.. berhenti sampai disana? belum. langsung disusul dengan gempa jambi. yang saya ingat hanya 2. yaitu kakak tiri ibu saya yang bekerja disana dan keluarganya yoanorvel. insya Allah mereka baik-baik juga..
sedang banyak bencana yang menimpa kita.. sebagai warga indonesia.. dan sebagai warga dunia. jangan lupakan banjir besar di phillipinna dan badai taifun di jepang *semoga larasmeong dan galuhbening baik-baik disana*. alam sedang murka? bukan. Tuhan sedang menegur kita dengan cara-Nya, melalui alam. percayalah itu akibat dari perbuatan kita, manusia, yang selama ini telah lalai terhadap-Nya. maupun tidak mengindahkan keseimbangan hidup di bumi yang bukan hanya milik kita ini
seperti yang upiavianto tulis di blognya (ketik disini untuk baca lebih lengkap):
Dan yang paling mengerikannya ketika akhirnya kita menjadi kebal rasa akan bencana itu sendiri.
Kita ngeliat itu semua seperti kita ngeliat sinetron di tv. Hal itu menjadi biasa. Setelah itu kita updates Facebook atao twitteran ama temen. Bukan karna tidak peduli, tapi mungkin karna rasa kebal itu.
Mengerikan.
semoga bukan itu yang terjadi pada kita.. pada saya. ketakutan yang terbesar saya adalah disaat kita sudah mengetahui makna dibalik setiap bencana (baca: yaitu peringatan kepada manusia), kita justru melihatnya biasa saja. atau bahkan tidak tergerak untuk melakukan sesuatu. minimal untuk diri kita sendiri. memohon ampun kepada Tuhan misalnya. menjadi sadar dan berbakti kepada-Nya
my biggest condolences to all earthquake west java, jogja, west sumatra, and jambi victims. may God always bless you all
aku baik2 saja kok nad… di tokyo ga terlalu besar efeknya. di prefektur lain lah, baru sereeem…
walaupun tutorku bilang ga apa2 pas taifun, tetep aja aku takut ke kampus. hahhhaa
orang jepang udah kebal ama gempa dan taifun kali ras hehe
baik disana-sana ya ras.. pulang utuh dengan selamat. indonesia butuh kamu hihi